Amurang, Fajarmanado.com – Pertemuan tokoh agama, Kristen, Katolik, Islam dan Hindu dan Budha Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) berlangsung di ruangan Wakil Bupati Franky D Wongkar, SH, Lantai Tiga Kantor Bupati Minsel, Amurang, Senin (21/11).
Acara yang dikemas oleh Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Minsel ini ikut dihadiri oleh Wakil Bupati Franky D Wongkar, SH dan insan Pers di Minsel dengan nara sumber Dr Ferry D Liando, MSi .
Sedereta masukan disampaikan tokoh-tokoh lintas agama pada acara tersebut, termasuk pandangan brilian yang dikemukakan Dr Ferry D Liando, MSi dalam acara Forum Pemerintah Daerah dengan Tokoh Lintas Agama dan masyarakat itu.
‘’Cara yang paling ampuh dalam rangka mengatasi agar tidak terjadi konflik adalah jangan berbuat konflik. Selama ini, banyak teori, UU dan program pemerintah untuk bagaimana atau tidak terjadi konflik. Namun, semua itu hanya mengatasi konflik dalam sekejab atau sesaat,’’ ujar Liando.
Menurut staf dosen FISIP Unsrat Manado ini, dalam waktu tidak lama kemudian, konflik itu akan muncul lagi.
“Hal itu disebabkan karena benih-benih konflik tetap dipelihara akibat barah dendam terus berkecamuk. Oleh karena itu, cara mencegah konflik yang paling efektif adalah menjaga agar tidak terjadi konflik,’’ jelasnya.
Karena itulah, lanjutnya, menjadi tanggungjawab bersama pemerintah daerah, tokoh-tokoh agama dan komunitas Pers di Minsel untuk menjaga Minsel tidak terkena imbas dari konflik yang ada di Jakarta dan kota lain.
‘’Konflik-konflik komunal yang terjadi di Indonesia itu disebabkan oleh tiga faktor,” ungkapnya.
Pertama, lanjut Linado, adalah faktor karakter masyarakat yang heterogen. Latar belakang yang berbeda kerap menimbulkan rasa curiga satu sama lain. Antaranya, sedikit gesekan langsung terjadi konflik.
Kedua, faktor kesenjangan sosial dan ekonomi melebar. Factor ini menyebabkan saling iri, cemburu yang satu dengan yang lain. Ketiga, factor kepentingan elit politik.
“Para elit politik sangat serakah dengan kekuasaan, maka segala cara bisa dilakukan termasuk menghasut kelompok-kelompok agama tertentu,’’ ujarnya.
Dengan demikian, lanjut Liando, konflik yang terjadi belakangan ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama. Tapi para elit-elit politik sering memanfaatkan kelompok agama untuk mendapatkan keuntngan, yaitu kekuasaan.
‘’Jika di daerah-daerah, termasuk Minsel ikutan konflik, maka kita sesungguhnya hanya korban dari elit politik yang berambisi dengan kekuasaannya,” paparnya.
Ketika Pilkada di Jakarta usai, menurut Linado, pemimpin yang terpilih akan berpestapora dengan jabatannya. “Sementara masyarakat masih berkecamuk dengan konflik balas dendam. Elit yang diuntungkan, masyarakat jelas merana,’’ ujarnya.
(andries)