Sonder, Fajarmanado.com – Peternak babi di Desa Tounelet Kecamatan Sonder yang menyewa di kandang milik keluarga Mamoto-Lengkey menjerit. Pasalnya, akibat diterjang banjir bandang pada Minggu (19/2), diperkirakan ada 300 ekor lebih ternak babi yang hanyut terbawa air.
Kalau dirupiahkan, kerugianya ditaksir mencapai Rp600 juta. Hal tersebut diungkapkan Hukum Tua (Kumtua) Desa Tounelet Betfien Tenda. “Hasil pendataan kami, ternak yang hanyut terbawa air ada di angka 300 ekor. Selain ternak, ada juga pakan ternak yang ikut terbawa banjir bandang. Hitung-hitungan kami, khusus untuk ternak babi dan pakan ternak, kerugianya ada di angka Rp600 juta,” ujar Tenda Senin (20/2) kemarin di lokasi kandang babi.
Sementara itu, Camat Sonder Rouldy Mewoh mengatakan kalau pihaknya telah berusaha mencari jalan untuk mengurangi beban yang diderita para peternak. “Saat ini pemerintah sementara dalam penjajakan dengan beberapa pihak mengusahakan penyaluran bantuan. kami juga telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial,” ujar Mewoh sembari menambahkan kalau pemerintah tidak akan tutup mata dengan keadaan tersebut.
Disisi lain, salah satu peternak mengatakan kalau banjir bandang yang menyerang kandang tersebut terjadi di pukul 03.00 Wita (Hari Minggu). “Hujan yang mengguyur hanya selang satu jam. Tapi perkiraan kami, di bagian atas, sudah lama diguyur hujan sehingga volume air yang menerjang begitu besar,” ujar Laurens Sambul.
Lanjutnya, kalau sungai yang tepat berada di samping kandang tidak tersumbat, banjir bandang tidak akan terjadi. “Volume air yang menerjang kandang babi ini seharusnya masih mampu ditampung sungai Noi Satu ini. Tapi karena diatas sudah tersumbat, sehingga air tidak lagi mengikuti sungai tapi sudah naik di persawahan dan melewati kandang ini dan menyeret ternak baik yang kecil maupun yang besar,” ujarnya.
“Informasi yang kami terima, ada ternak yang tersangkut di Desa Tincep, Timbukar, bahkan ada yang sampai di Jembatan Maruasey Minahasa Selatan. Tapi para peternak sudah tidak memusingkan yang sudah hanyut, hanya fokus mengurus yang masih bisa diselamatkan,” jelasnya.
Senada diungkapan wanita yang akrab disapa Elen yang mengaku kehilangan ternak paling banyak. “Saya kehilangan 101 ternak babi karena terbawa arus banjir bandang yang menerjang tempat ini pada kemarin hari. Untuk itu, kami sangat berharap keseriusan pemerintah terkait membantu kami yang ditimpa bencana,” singkat wanita paruh baya tersebut.
Diketahui, Lokasi kandang peternakan babi tersebut adalah milik keluarga Mamoto-Lengkey dan terdiri dari ratusan bak (kamar). Kamar-kamar tersebut kemudian disewakan kepada siapa yang ingin menjalankan usaha ternak babi di lokasi itu layaknya tempat kost.
Kontraknya pun berfariasi durasi waktunya. Ada yang kontrak hanya sampai panen, ada yang kontrak selama 5 bulan, bahkan ada yang mengontrak sampai tahunan. Harga per bak pun berfariasi. Ada yang khusus untuk babi induk, dan ada yang untuk babi stater dan ukuran lainya.
“Kami yang menyewa di tempat ini ada 51 peternak. Dan babi yang dipelihara ada ribuan,” ujar Tomy Tilaar, peternak babi dari desa Kolongan namun menjalankan usahanya di Desa Tounelet.
(fis)