Bitung, Fajarmanado.com – Membantu sesama manusia yang membutuhkan bantuan tanpa pamrih, dengan tidak memandang Suku, Agama, dan Etnis sudah menjadi kewajiban setiap insan sekaligus mengaktualisasikan Spirit Solidaritas kemanusian. Senasib dan sepenanggungan bukan sekedar slogan tetapi harus mampu diwujudkan dalam setiap dimensi kehidupan.
Hal ini diikatakan oleh Ketua Bitung Tagalolo Club (BTG) Meidy Tuwo didampingi Lily Kadeke, Vera Koroh, Setly Rumondor dan pengurus BTC lainnya, Kamis (19/10), usai mengurus nenek Sin B Palualah (70).
” Apa yang kami lakukan terhadap Nenek Sin yang tinggal di ‘gubuk derita’, hanya beralaskan serta beratapkan terpal kusut dibawah pohon Nusu (Ketapang), tepatnya di lahan kosong tanah Tambung Kelurahan Pakadoodan, Kecamatan Maesa, dan saat ini sudah ditangani oleh Dinas Sosial Kota Bitung (dibawa ke Panti Waras), adalah bagian dari rasa solidaritas kemanusian BTC untuk berbagi kasih dan kepedulian terhadap sesama manusia. Apa yang kami lakukan ini bergerak dari hati yang tulus untuk meringankan beban sesama manusia yang membutuhkan,” jelas Tuwo.
Ia juga menambahkan, sejak hari Minggu (15/10) sampai hari ini (Kamis, 19/10), sudah ada tiga orang wanita lanjut usia yang ditolong karena hanya tinggal sendiri di ‘rumah’ terpal tua. Sedangkan 1 orang wanita bernama Ambrina Gunena (49) warga Kelurahan Girian Indah Lingkungan VII RT 01, yang hanya tinggal menumpang di rumah orang sejak tahun 2012, sementara diusahakn untuk dicarikan solusi.
“Realitas hidup yang dialami oleh keempat saudara kita ini kiranya bisa dijadikan pelajaran berharga supaya lebih mempertajam kepekaan terhadap sesama manusia yang membutuhkan, sekaligus kiranya bisa mendapat perhatian serius dari semua elemen masyarakat Kota Bitung,” katanya.
Sementara itu Lily Kadeke menambahkan, khusus untuk Ibu Ambrina Gunena, baru dikunjungi hari (Kamis, 19/10) malam. Karena dikabari warga sore hari, mengetahui hal tersebut tim BTC langsung menuju ke lokasi dan sudah bertemu serta berbincang-bincang dengan Ibu Ambrina. Ia (ibu Ambrina) mengaku sejak ibunya meninggal, ia terpaksa harus tinggal (menumpang) dirumah warga.
“Ibu Ambrina yang terdaftar sebagai jemaat GMiM Solafide kolom 8, dan dikenal rajin beribadah, mangatakan untuk menyambung hidupnya, ia bekerja apa saja termasuk membersihkan bawang merah yang diupah Rp. 30.000,- per karung,” pungkasnya.
Lurah Pakdoodan, Berry Tinangon menjelaskan, perkiraan kami, oma ini tinggal ditenda baru beberapa bulan, karena sebelum ada Event FSPL, kami sedang bersih-bersih pantai, oma ini belum ada. “Maknya ketika mendapat informasi dari Pala, saya kaget,” kata Tinangon. (Jones Mamitoho)