DPP APDESI

Pilkada Mitra, Papan Dua Bisa Jadi Kunci Kemenangan

Ratahan,Fajarmanado.com – Posisi calon wakil bupati, bisa jadi kunci kemenangan pemilihan bupati (Pilbup) Minahasa Tenggara. Jangan sampai salah pilih.Termasuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Sang petahana, James Sumendap (JS) dan PDI-P terkesan masih menahan kartu As.

Hanya saja, posisi JS belum aman. Belum aman, dalam artian, ketua PDI-P Minahasa Tenggara itu, belum menemukan sosok papan dua, yang bisa bersanding bersama merebut kemenangan. Banteng pun sangat berhati-hati menetapkan calon di Minahasa Tenggara. Sebab termasuk Pilkada paling bergengsi di Sulut. Juga, berkaca kekalahan Pilwako Manado 2015. Kegagalan di ibu kota, tak ingin dirasakan Ketua PDI-P Sulut Olly Dondokambey.

Terkait hal ini, JS tidak terang-terangan menentukan figur pendampingnya. Dirinya mengaku membuka komunikasi politik dengan siapa saja. Tak ada kriteria khusus. “Jika melihat Dapil, paling efektif jika mengambil kandidat dari Dapil I(Tombatu,Touluaan ) atau Dapil ||| (Ratatotok,Belang),” beber JS.
Namun, ia menegaskan, semua kembali kepada keputusan partai. Ia memastikan, dirinya tak akan bertarung di Pilbup jika tidak ditugaskan partai. “Saya sudah bilang, jika tidak ditugaskan partai untuk maju, maka saya tidak akan bertarung. Termasuk jika tidak mendapat hasil survei sesuai yang ditentukan partai, maka saya tidak akan maju sebagai calon,” beber JS, dalam berbagai kesempatan.
Pengamat Politik Toar Palilingan menjelaskan, semua masih tahap awal belum final. Termasuk siapa calon yang bakal diusung PDI-P masih misterius. Walaupun ada kecenderungan petahana memilih calon pendamping. Namun, hal ini jangan sampai menjadi bumerang. “Masih belum final. Bahkan masih ada kemungkinan berkoalisi jika memang itu yang dibutuhkan untuk mencari kemenangan,” kata Toar.
Lebih lanjut Toar mengatakan, PDI-P cenderung normatif. “Setiap ditanya awak media, pasti jawaban yang keluar adalah sesuai mekanisme partai. Artinya, partai penguasa ini belum menentukan siapa. Jangan sampai incumbent di Minahasa Tenggara tak diakomodir karena tidak mau mengikuti keinginan partai,” sebutnya.
Toar juga menambahkan PDI-P mengusung calon sangat tergantung hasil survei. “Jangan sampai elektabilitas menurun,” katanya. Untuk calon, saran Toar , PDI-P jangan mengambil dari satu daerah pemilihan (Dapil). “Jangan sampai menumpuk di suatu Dapil. Karena, kondisi perpolitikan di Minahasa Tenggara tak ada figur menonjol. Perhitungan matang dari calon untuk papan dua harus terukur,” ujarnya.
Untuk calon papan dua, PDI-P jangan memaksakan kader internal. “Koalisi juga bisa. Masih tak menutup kemungkinan, bisa jadi koalisi dengan Golkar mungkin, atau Demokrat. Semua masih mungkin. Bahkan d dengan birokrat,” papar pria bersahaja ini.

Terpisah, Pemerhati Politik Mitra Veppy Rambi menyebutkan, kondisi politik di Minahasa Tenggara sedang bergejolak. Termasuk bagi partai penguasa. Dikatakannya, jika ingin memenangkan Pilkada, harus mengambil calon pendamping yang bisa menopang elektabilitas.

“Bukan hanya JS yang memiliki nilai jual, namun calon pasangannya juga,” ungkap Veppy.
Lebih lanjut Veppy menegaskan jangan sampai JS akan blunder bila salah memilih pendamping. “Jangan sampai salah pilih. Karena, faktor kemenangan JS adalah jika diusung partai. Dan JS harus melihat kemauan partai juga,” terangnya.
Sementara, terkait nama-nama yang bakal disodorkan menjadi pendamping, Veppy memilih figur birokrat. “Memang ada nama-nama yang diminati partai. Salah satunya figur birokrat Piether Owu. Menurut saya, Owu cukup bisa mengimbangi JS dalam hal birokasi,” sebutnya. “Selain sudah pengalaman, Owu juga figur birokrat yang saling mengisi dengan JS yang notabene adalah politisi,” pungkasnya.

Penulis : Didi Gara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *