Manado, Fajarmanado.com – Kuliner khas Manado-Minahasa, cukup banyak melahirkan enterpreneur (wirausahawan) yang berhasil di daerah ini.
Di kota Manado misalnya, ada beberapa tempat kuliner yang cukup populer dan menjadi lokasi pertemuan dari berbagai kalangan. Sebut saja Rumah Kopi K-8, Rumah Kopi Billy dan Rumah Makan Ragey Tanta Ola Pelmas.
“Bagi saya ketiga tempat yang disebutkan di atas merupakan enterpreunur Manado yang tangguh,” ujar Christy Manarisip, warga Kota Manado.
Menurut Manarisip, para sosialita Kota Manado hampir dapat dipastikan pernah berkunjung ke rumah kopi K-8. Rumah kopi yang dirintis oleh Denny Lahu di daerah Sario ini udah menjadi ikon kuliner khas kota Manado. Awalnya hanya sebuah rumah kopi yang dibangun di bekas tempat praktek dr H.S Lahu, seorang dokter kandungan dan kebidanan.
Memang di saat itu, tambahnya, tren “bakumpul orang Manado” sedang booming. Sambil “ba Carlota” (bercerita) orang ingin ditemani secangkir kopi susu.
Tak lama kemudian K-8 menjelma menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Manado. “Kawan saya dari Jakarta, jauh-jauh hari sudah menyebut mau ke K-8 karena kue onde-ondenya terasa enak. Kue khas Manado ini diolah amat sederhana, tapi sangat digemari. Belum lagi kenalan dari luar negeri yang sudah penasaran dengan K-8,” papar Manarisip.
Selain itu, tambahnya, rumah kopi Billy (RKB) juga sudah menjadi tempat bertemu berbagai lapisan masyarakat di Kota Manado.
RKB yang pertama kali dibuka terletak di daerah Titiwungen. Di tempat ini bisa melihat bagaimana para pebisnis, pegawai dan berbagai profesi lainnya duduk bersama sambil sharing pengalaman.
Posisinya yang mudah diakses, karena berada di jalan utama kota Manado yakni jalan Sam Ratulangi, tak heran RKB sejak pagi hingga sore selalu ramai dikunjungi orang. Hingga saat ini, sudah ada 3 outlet RKB, yakni di Titiwungen, Kawasan Mega Mas, dan di daerah perkantoran jalan 17 Agustus.
Lain lagi kalau mau makan sate Ragey. Banyak orang Manado langsung teringat Tanta Ola Pelmas, Sario.
Ragey merupakan makanan khas Kawangkoan, Minahasa yang dipotong seperti sate, hanya saja potongan ragey jauh lebih besar dari potongan sate. Bahannya dari daging babi yang diolah dengan aneka bumbu khas Minahasa.
Ragey tante Ola Pelmas diawali dari gerobak dorong. “Namun pertumbuhan usahanya luar biasa,” tutur Manarisip lagi.
Manarisip yang juga pernah bergelut sebagai jurnalis, mengatakan, mereka ini bukan enterpreneur instant, dan bukan hanya melanjutkan usaha yang sudah dirintis oleh orang tua mereka. Mereka membangun usahanya dari nol, dari fondasi.
Ia menilai, mereka orang hebat sebab menciptakan karakter, brand sendiri. Suatu keberanian yang sangat sedikit dipunyai orang. Mereka tidak berlatarbelakang pendidikan sales dan marketing, bukan lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan juga bukan lulusan MBA. “Perguruan Tinggi hanya menghasilkan pencari kerja bukan pembuat lapangan kerja,” tegasnya.
Rumah kopi K-8, Rumah Kopi Billy dan Ragey Tanta Ola Pelmas merupakan brand yang diciptakan sendiri, bukan brand hasil franchise, bukan warabala. Suatu keberanian yang luar biasa sebab mereka percaya diri dengan brand image yang lokal tapi mampu mendunia. Mereka tidak mau menunggangi popularitas orang apalagi membonceng.
“Jadi, saya sebagai konsumen kagum dan loyal dengan produk mereka. Mereka layak mendapat apresiasi atas torehan keberhasilan mereka,” pungkas Christy Manarisip yang mengaku sebagi customer, bukan sosialita.
(jeffry th. pay)